Dwiana Galuh Pratiwi
Dilansir dari situs kumparan.com, penelitian Pew Research Center Amerika Serikat mengungkapkan bahwa masalah kejiwaan pada remaja sudah ditemukan sejak usia 14 tahun   (Stepanie Elia,2019). Tujuh dari sepuluh remaja teridentifikasi mengalami gangguan kecemasan dan depresi . Di Indonesia sendiri kasus depresi pada remaja sudah marak terjadi. Ketua Dewan Pakar Badan Kesehatan Jiwa Indonesia, Nova Riyanti Yusuf menyatakan, “lebih dari 30% dari 914 siswa di Jakarta terkena depresi”. Tingginya tingkat depresi remaja ini tentunya menjadi perhatian penting bagi pemerintah. Banyak masyarakat Indonesia yang masih menganggap remeh adanya depresi yang dialami remaja ini. 

Depresi merupakan kondisi emosional yang biasanya ditandai dengan kesedihan yang amat sangat, perasaan tidak berarti dan bersalah, menarik diri dari orang lain, dan tidak dapat tidur, kehilangan selera makan, hasrat seksual, dan minat serta kesenangan dalam aktivitas yang biasa dilakukan (Davison, 2006: 372). Dengan demikian, depresi sangatlah mempengaruhi kehidupan remaja karena menyebabkan penurunan kualitas hidup sehari-hari.

Depresi pada remaja, sering kali berkaitan dengan permasalahan eksternal yaitu masalah lingkungan sosial yang tidak mendukung, bahkan mengganggu. Pada masa remaja mereka akan cenderung bebas mencari identitas diri di lingkungan sekitarnya. Lingkungan yang kurang mendukung bagi remaja adalah lingkungan yang membuatnya merasa tertekan. Beberapa kondisi eksternal yang biasanya menjadi pemicu remaja mengalami depresi yaitu masalah pendidikan, perceraian orang tua, tekanan sosial dalam pertemanan, percintaan,  dan juga masalah finansial. Selain faktor eksternal, depresi pada remaja juga disebabkan karena faktor internal. Faktor ini berasal dari dalam diri remaja itu sendiri, diantaranya faktor genetik yang diturunkan dari anggota keluarga yang juga pernah mengalami depresi. Faktor biologis yaitu ketika neutransmitter pada otak sedang terganggu dan tidak bekerja maksimal sehingga meningkatkan resiko depresi. Selain itu juga karena selalu berpikir negatif, merasa kesepian atau kehilangan, dan juga kurangnya kepercayaan diri seorang remaja yang menyebabkan dirinya merasa minder dan putus asa.

Depresi pada remaja sering kali tidak dikenali secara cepat oleh orang tua maupun guru. Karena memang pada dasarnya remaja sering mengalami mood swing, sehingga sering kali perubahan suasana hari remaja dianggap biasa saja. Apalagi setiap remaja pasti menunjukkan gejala yang berbeda-beda. Namun secara umum, remaja yang mengalami depresi akan sering menunjukkan gejala-gejala yang tidak biasa, seperti mudah menangis, tersinggung, mudah marah karena hal sederhana, kehilangan semangat beraktivitas misalnya bolos sekolah, sulit berkonsentrasi yang biasanya menyebabkan penurunan presasi, sulot tidur, mudah lelah, higa gejala fisik seperti sakit perut dan sakit kepala yang berkepanjangan dan tidak diketahui penyebabnya secara medis.

Jika seorang remaja terindikasi mengalami depresi, seharusnya perlu segera mendapatkan penanganan yang tepat. Apabila dibiarkan berkelanjutan akan menimbulkan dampak yang tidak baik bahkan membahayakan, baik bagi remaja itu sendiri maupun orang-orang sekitarnya.  Dampak yang ditimbulkan akibat depresi remaja yang diabaikan adalah munculnya kepribadian remaja yang cenderung destruktif karena mereka cenderung tidak bisa mengendalikan emosinya. Hal ini tentunya akan merugikan diri sendiri dan orang lain,misalnya melukai diri sendiri ataupun orang lain. Bahkan dampak yang paling parah adalah memunculkan pikiran untuk bunuh diri. Selain itu, depresi yang berkepanjangan akan mempengaruhi masa depan remaja karena mereka sudah kehilangan semangat menjalani hidup dan kehilangan motivasi diri. Kemudian dampak jangka panjangnya juga mempengaruhi remaja secara fisik, karena akan memunculkan beberapa penyakit bahkan hingga keidaksadaran secara fisik maupun psikis.

Jika seorang remaja dinyatakan benar-benar menderita depresi, maka secara medis akan diberikan penanganan berupa psikoterapi dan obat-obatan antidepresan. Namun selain itu, perlu adanya penanganan yang baik dari orang tua karena sebagai lingkungan terdekat yang mempengaaruhi remaja. Beberapa peran orang tua yang perlu dilakukan yaitu mempelajari tentang depresi sehingga dapat mengetahui bagaimana harus menyikapi dan teknik berkomunikasi yang benar dengan remaja yang menderita depresi. Selain itu dengarkanlah cerita anak,agar remaja dapat menyalurkan emosinya dan tidak memendamnya sendiri.

Depresi memang sangat lekat dengan kehidupan remaja. Jadi sebagai orang tua, guru, maupun orang dewasa, harus berusaha membantu remaja agar tidak terjerumus dalam gangguan depresi ini. Upaya yang dapat dilakukan misalnya degan memberikan ruang bagi remaja untuk dapat mengekspresikan emosinya. Arahkan remaja pada kegiatan-kegitan positif di waktu senggangnya dan berilah kebebasan. Orang tua juga harus memberikan perhatian lebih kepada remaja karena di masa remaja mereka akan mencari jati dirinya sehingga perlu arahan dan kasih sayang pengawasan yang tepat. Di sekolah pun, guru harus memberikan dukungan dan pengawasan. Karena sebagian besar waktu remaja dihabiskan di lingkungan sekolah. Salah satu upaya kecil yang dapat dilakukan adalah mengapresiasi setiap pencapaia prestasi siswa. Sehingga siswa akan merasa lebih percaya diri. Selain itu, guru juga harus memperhatikan hubungan pertemanan antar siswa agar tetap dalam lingkup pertemanan yang sehat. Dan yang paling penting adalah tanamkan kepada siswa untuk selalu berpikir positif, sehingga akan meminimalisir kecemasan pemicu depresi.

Referensi pendukung :