BAB
I
PENDAHULUAN
I.
LATAR BELAKANG
Penciptaan manusia dan
alam semesta termasuk salah satu isu sentral dalam bahasan pemikiran keagamaan.
Orientasi Penciptaan alam semesta termasuk kajian penting dalam bidang sains
kealaman yang bersifat empiris eksperimental.
Manusia sebagai makhluk
yang berpikir akan dibekali rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang
mendorong untuk mengenal, memahami, dan menjelaskan gejala-gejala alam, juga
berusaha untuk memecahkan masalah atau persoalan yang dihadapi, serta berusaha
untuk memahami masalah itu sendiri, ini semua menyebabkan manusia mendapatkan
pengetahuan yang baik.
Rasa ingin tahu (curiosity) selalu muncul ketika kita dihadapkan pada alam
semesta yang di dalamnya mengandung banyak misteri. Curiosity manusia dapat mengubah
no thing menjadi
know a lot of
thing. Rasa ingin tahu jugalah yang memunculkan pelbagai penelitian
serta pengujian dari hipotesa akhir dan bila hal itu terbukti kebenarannya maka
akan terbentuk suatu bidang ilmu.
Dalam pembentukan alam
raya munculnya manusia di bumi secara nisbi masih sangat baru. Oleh karena itu,
walaupun manusia dengan tekun mencari cari bagaimana caranya alam raya tercipta
sering terhalang karena keterbatasan pandangannya, yang mengira bahwa numi
tempat ia berpijak itulah alam raya.
Oleh sebab itu kita
tidak boleh heran bahwa sejak zaman purbakala hingga sekarang manusia dari
berbagai peradaban mencoba menemukan model terbentuknya bumi sesuai dengan
tingkat perkembangan pengetahuan dan kecendikiaannya.
Dalam ringkasan ini
penulis akan mencoba membahas tentang perkembangan pemikiran tentang
pembentukan alam semesta yang ditinjau dari pandangan dan teori dari beberapa
peradaban, juga pandangan Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PEMBENTUKAN ALAM SEMESTA DARI BERBAGAI
PERADABAN
Pandangan
dari bangsa Mesir Purba tentang alam semesta, mereka percaya bahwa alam semesta
ini dikuasai Dewi langit Nut yang tubuhnya bertaburan bintang, memayungi alam
semesta sambil menopang langit agar tidak runtuh menekan bumi. Setiap malam Dia
menelan matahari dan memuntahkannya di pagi hari. Diantara pagi dan malam hari
matahari berlayar di langit denga menggunakan perahu. Selain Dewi Nut di
bawahnya berkuasa Dewa Udara Syu, di bawahnya lagi ada Dewa Bumi Geb.
Menurut
pandanagan bangsa Babilonia, mereka percaya bahwa bumi merupakan pusat alam
semesta dan mereka beranggapan bumi sebagai suatu gunung yang berongga di
bawahnya dan di topang oleh suatu samudra. Angkasa melengkung di atas bumi,
berdiri tegak diantara perairan bawah dan perairan atas samudra, yang kadang –
kadang turun ke bumi berupa hujan.
Sebagian
besar bangsa Yunani Kuno percaya bahwa bumi adalah pusat alam smesta. Sekitar
tahun 140 M munsul teori Ptolemaios tentang system tata surya di alam smesta
yang didasari oleh konsep geosentrisme. Ia beranggapan bahwa bumi tetap pada
tempatnya, sedangkan bulan, merkurius, venus, matahari, saturnus, dan yupiter
mengelilingi bumi dalam gerakan yang melingkar. Teori ini bertahan sampai akhir
abad ke – 18, walau demikian sebelum abad ke – 18 yaitu tahun 1543 telah muncul
teoriHeliosentrisme yang dikemukakan oleh Copernicus. Ia beranggapan bahwa
matahari sebagai pusat tata surya yang dikelilingi oleh enam planet yang ketika
itu baru diketahui yaitu merkurius, venus, bumi, mars, yupiter, dan saturnus.
Menurutnya keenam planet tersebut mengitari matahari meleewati lintasan
berbentuk lingkaran. Namun terakhir berdasarkan penelitian Johannes Keppler
memperkuat teori Heliosentrisme dengan mengubah bentuk lintasan planet dari
lingkaran menjadi elips.
Dengan
majunya teknologi pembuatan teleskop, pada abad ke -18 astronom Inggris Sir
William Herschel dapat melihat bentuk gugus bintang Bima Sakti serta mengamati
bentuk – bentuk menyerupai awan yang terang di angkasa yang dinamakan Nebula.
Pad tahun 1981 astronom Amerika Serikat Edwin Powell Hubblw menyatakan bahwa
Nebula yang diamati oleh Herschel adalah galaksi juga yang lataknya lebih jauh
dari galaksi Bima Sakti.
Sekarang
telah diketahui lebih dari seratus juta galaksi, yang masing – masing galaksi
terdiri atas berjuta – juta bintang, masing – masing serupa dengan matahari.
Dari galaksi Bima Sakti sendiri diketahui bahwa bintang-bintang yang terdapat
di dalamnya termasuk matahari sekitar 100 milyard yang bertebaran dalam bentuk
cakram, yang berdiameter ± 100 ribu tahun cahaya yang tebalnya ± 5 ribu tahun
cahaya (1 tahun cahaya = 9,46 x
km).
Matahari
kita salah satu anggota galaksi yang letaknya ± 50 ribu tahun cahaya dari pusat
galaksi Bima Sakti, jadi matahari bukan pusat alam semesta juga bukan pusat
galaksi Bima Sakti. Letak tata surya kita bahkan hampir ditepi galaksi Bima
Sakti, sehingga orang dulu menyangka bahwa Bima Sakti itu lepas dari system
tata surya. Dalam kenyataannya tata surya kita sebagai anggota galaksi Bima
Sakti iktu berputar di sekitar pusat cakram galaksi Bima Sakti dengan satu
putaran penuh ± 250 juta tahun.
B.
TEORI – TEORI PEMBENTUKAN ALAM SEMESTA
1.
TEORI KABUT
Teori
kabut dikemukakan oleh dua orang ilmuwan yaitu Imanuel Kant (1724 – 1804)
seorang ahli filsafat bangsa Jerman dan Piere Simon LaPlace (1749 – 1827) ahli
astronomi bangsa Perancis. Kant mengemukakan teorinya tahun 1755, sedangkan
LaPlace mengemukakan pada tahun 1796 dengan nama Nebular Hypothesis.
Menurut
Kant, pada awalnya alam semesta merupakan gumpalan kabut (nebula) yang mengandung
debu dan gas, terutama gas helium dan hydrogen. Kabut bergerak dan berputar
dengan kecepatan yang sangat lambat sehingga lama kelamaan suhunya menurun dan
massanya terkonsentrasi. Kemudian perputarannya menjadi lebih cepat sehingga
membentuk sebuah cakram dengan massa terpusat di tengah – tengah cakram.
Perputaran
yang semakin cepat menyebabkan tebentuk cincin atau gelang – gelang gas yang
memisahkan diri dari bagian luar cakram sehingga terbentuk suatu cakram yang
mengandung sedikit kabut di bagian tengah dan beberapa lapis cincin di sekelilingnya. Cincin – cincin kemudian
memadat dan membeku sehingga terbentuk planet – planet, sedangkan massa pada
bagian pusat membeku membentuk matahari.
Menurut
LaPlace, tata surya berasal dari kabut panas yang terpilin membentuk bola
besar. Kemudian terjadi proses pendinginan dan pengerutan sehingga mengecil
membentuk cakram yang berputar makin cepat. Selanjutnya sebagian massa gas pada bagian luar cakram menjauh dari gumpalan
intinya dan membentuk cincin – cincin. Cincin ini kemudian membentuk gumpalan
padat sehingga terbentuklah planet – planet dan satelit, sedangkan bagian massa
gas yang ditinggalkan di bagian pusat piringan pada inti membentuk matahari.
Pada
akhir abad ke – 19 teori kabut disanggah oleh beberapa ahli seperti Jame
Clerk-Maxwell yang memberikan kesimpulan bahwa, bila bahan pembentuk planet
terdistribusi di sekitar matahari membentuk suatu cakram atau suatu piringan,
maka gaya yang disebabkan oleh perbedaan perputaran (kecepatan anguler) akan
mencegah terjadinya pembentukan planet.
Pada abad ke – 20 percobaan dilakukan untuk membuktikan terbentuknya cincin –
cincin LaPlace, menunjukkan bahwa medan magnet dan medan listrik matahari telah
merusak proses pembekuan batu – batuan. Jadi tidak ada alas an kuat untuk
menyatakan bahwa cincin gas dapat membeku membentuk planet.
Teori kabut ini telah dipercaya orang selama kira-kira
100 tahun, tetapi sekarang telah benyak ditinggalkan karena: tidak mampu
memberikan jawaban-jawaban kepada banyak hal atau masalah di dalam tata surya
kita dan karena munculnya banyak teori baru yang lebih memuaskan.
2.
TEORI BINTANG KEMBAR
Menurut
teori bintang kembar, awalnya ada dua buah bintang yang berdekatan (bintang
kembar), salah satu bintang tersebut meledak dan berkeping – keping. Akibat
pengaruh gravitasi dari bintang kedua, maka keping – keping ini bergerak
mengelilingi bintang tersebut dan berubahlah menjadi planet – planet. Sedangkan
bintang yang tidak meledak adalah matahari.Teori ini mempunyai kelemahan karena
berdasarkan analisis matematis yang dilakukan oleh para ahli menunjukkan bahwa
momentum anguler dalam system tata surya yang ada sekarang ini tidak mungkin
dihasilkan oleh peristiwa tabrakan dua buah bintang.
3.
TEORI LEDAKAN MAHA DAHSYAT (BIG BANG)
Alam pada saat itu belum merupakan materi tetapi pada
suatu ketika berubah menjadi materi yang sangat kecil dan padat, massanya
sangat berat dan tekanannya besar, karena adanya reaksi inti kemudian terjadi
ledakan hebat. Massa itu kemudian berserak dan mengembang dengan sangat cepat
menjauhi pusat ledakan dan membentuk kelompok-kelompok dengan berat jenis yang
lebih kecil dan trus bergerak, menjauhi titik pusatnya.
Dentuman besar itu terjadi ketika seluruh materi
kosmos keluar dengan kerapatan yang sangat besar dan suhu yang sangat tinggi
dari volume yang sangat kecil. Alam semesta lahir dari singularitas fisis
dengan keadaan ekstrem. Teori Big Bang ini semakin menguatkan pendapat bahwa
alam semesta ini pada awalnya tidak ada tetapi kemudian sekitar 12 milyar tahun
yang lalu tercipta dari ketiadaan.
Pada tahun 1948, Gerge Gamov muncul dengan gagasan
lain tentang Big Bang. Ia mengatakan bahwa setelah pembentukan alam semesta
melalui ledakan raksasa, sisa radiasi yang ditinggalkan oleh ledakan ini
haruslah ada di alam. Selain itu, radiasi ini haruslah tersebar merata di
segenap penjuru alam semesta. Bukti yang ’seharusnya ada’ ini pada akhirnya
diketemukan. Pada tahun 1965, dua peneliti bernama Arno Penziaz dan Robert
Wilson menemukan gelombang ini tanpa sengaja. Radiasi ini, yang disebut
‘radiasi latar kosmis’, tidak terlihat memancar dari satu sumber tertentu, akan
tetapi meliputi keseluruhan ruang angkasa. Demikianlah, diketahui bahwa radiasi
ini adalah sisa radiasi peninggalan dari tahapan awal peristiwa Big Bang.
Penzias dan Wilson dianugerahi hadiah Nobel untuk penemuan mereka.
Pada tahun 1989, NASA mengirimkan satelit COBE (Cosmic
Background Explorer). COBE ke ruang angkasa untuk melakukan penelitian tentang
radiasi latar kosmis. Hanya perlu 8 menit bagi COBE untuk membuktikan
perhitungan Penziaz dan Wilson. COBE telah menemukan sisa ledakan raksasa yang
telah terjadi di awal pembentukan alam semesta. Dinyatakan sebagai penemuan
astronomi terbesar sepanjang masa, penemuan ini dengan jelas membuktikan teori
Big Bang.
Bukti penting lain bagi Big Bang adalah jumlah
hidrogen dan helium di ruang angkasa. Dalam berbagai penelitian, diketahui
bahwa konsentrasi hidrogen-helium di alam semesta bersesuaian dengan
perhitungan teoritis konsentrasi hidrogen-helium sisa peninggalan peristiwa Big
Bang. Jika alam semesta tak memiliki permulaan dan jika ia telah ada sejak dulu
kala, maka unsur hidrogen ini seharusnya telah habis sama sekali dan berubah
menjadi helium.
Segala bukti meyakinkan ini menyebabkan teori Big Bang
diterima oleh masyarakat ilmiah. Model Big Bang adalah titik terakhir yang
dicapai ilmu pengetahuan tentang asal muasal alam semesta.
C.
ALAM SEMESTA DALAM PANDANGAN SAINS DAN
ISLAM
a)
Menangkap Realitas Alam Semesta dengan
Sains
Pemahaman
manusia tentang alam semesta mempergunakan seluruh pengetahuan di bumi,
berbagai prinsip-prinsip, kepercayaan umum dalam sains (seperti ketidakpastian
Heisenberg tentang pengukuran simultan dimensi ruang dan waktu), serta berbagai
aturan untuk keperluan praktis. Melalui sebuah kerangka besar gagasan yang
menghubungkan berbagai fenomena (teori relativitas umum, teori kinetik materi,
teori relativitas khusus) coba dikemukakan satu penjelasan. Berbagai hipotesa,
gagasan awal atau tentatif dikemukakan untuk menjelaskan fenomena. Tentu
gagasan tersebut masih perlu diuji kebenarannya untuk dapat dikatakan sebuah
hukum.
Dunia
fisika membahas konsep energi, hukum konservasi, konsep gerak gelombang, dan
konsep medan. Pembahasan Mekanika pun sangat luas, dari Mekanika klasik ke
Mekanika Kuantum Relativistik. Mekanika Kuantum Relativistik mengakomodasi
pemecahan persoalan mekanika semua benda, Mekanika kuantum melayani persoalan
mekanika untuk semua massa yang kecepatannya kurang dari kecepatan cahaya.
Mekanika Relativistik memecahkan persoalan mekanika massa yang lebih besar dari
10-27 kg dan bagi semua kecepatan. Mekanika Newton (disebut juga
mekanika klasik) menjelaskan fenomena benda yang relatif besar, dengan
kecepatan relatif rendah, tapi juga bisa dipergunakan sebagai pendekatan
fenomena benda mikroskopik.
Mekanika
statistik (kuantum klasik) adalah suatu teknik statistik untuk interaksi benda
dalam jumlah besar untuk menjelaskan fenomena yang besar, teori kinetik dan termodinamik.
Dalam penjelajahan akal manusia di dunia elektromagnet dikenal persamaan
Maxwell untuk mendeskripsikan kelakuan medan elektromagnet, juga teori tentang
hubungan cahaya dan elektromagnet. Dalam pembahasan interaksi partikel, ada
prinsip larangan Pauli, interaksi gravitasi, dan interaksi elektromagnet. Medan
menyebabkan gaya; medan-gravitasi menyebabkan gaya gravitasi, medan-listrik
menyebabkan gaya listrik dan sebagainya. Demikianlah, metode sains mencoba
dengan lebih cermat menerangkan realitas alam semesta yang berisi banyak sekali
benda langit (dan lebih banyak lagi yang belum ditemukan).
Pengetahuan
tentang luas alam semesta dibatasi oleh keberadaan objek berdaya besar, seperti
Quasar atau inti galaksi, sebagai penuntun tepi alam semesta yang bisa diamati;
selain itu juga dibatasi oleh kecepatan cahaya dan usia alam semesta (15 miliar
tahun). Itulah sebabnya ruang alam semesta yang pernah diamati manusia
berdimensi 15-20 miliar tahun cahaya. Namun, banyak benda langit yang tak
memancarkan cahaya dan tak bisa dideteksi keberadaannya, protoplanet misalnya.
Menurut taksiran, sekitar 90% objek di alam semesta belum atau tak akan
terdeteksi secara langsung. Keberadaannya objek gelap ini diyakini karena
secara dinamika mengganggu orbit objek-objek yang teramati, lewat gravitasi.
Berbicara
tentang daya objek, dalam kehidupan sehari-hari ada lampu penerangan berdaya 10
watt, 75 watt dan sebagainya; sedangkan Matahari berdaya 1026 watt
dan berjarak satu sa* dari Bumi, menghangatinya. Jika kita lihat, lampu-lampu
kota dengan daya lebih besarlah yang tampak terang. Menurut hukum cahaya,
terang lampu akan melemah sebanding dengan jarak kuadrat, jadi sebuah lampu
pada jarak 1 meter tampak 4 kali lebih terang dibandingkan pada jarak 2 meter,
dan apabila dilihat pada jarak 5 meter tampak 25 kali lebih redup.
Maka,
kemampuan mata manusia mengamati bintang lemah terbatas. Ukuran kolektor cahaya
juga akan membatasi skala terang objek yang bisa diamati. Untuk pengamatan
objek langit yang lebih lemah dipergunakan kolektor atau teleskop yang lebih
besar. Teleskop yang besar pun mempunyai keterbatasan dalam mengamati obyek
langit yang lemah, walaupun berhasil mendeteksi obyek langit yang berjuta atau
bermiliar kali lebih lemah dari bintang terlemah yang bisa dideteksi manusia.
Pertanyaan lain muncul: Apakah semua objek langit bisa diamati melalui
teleskop? Berapa banyak yang mungkin diamati dan dihadirkan sebagai
pengetahuan?
Makin
jauh jarak galaksi, berarti pengamatan kita juga merupakan pengamatan masa
silam galaksi tersebut. Cahaya merupakan fosil informasi pembentukan alam
semesta yang berguna, dan manusia berupaya menangkapnya untuk mengetahui
prosesnya hingga takdir di masa depan yang sangat jauh, yang akan dilalui
melalui hukum-hukum alam ciptaan-Nya.
b)
Pandangan Islam Tentang Terbentuknya
Alam Semesta
Sangat
menarik untuk membandingkan konsep pembentukan alam semsta berdasarkan Islam
dengan teori yang dikemukakan para ahli kosmologi akhir – akhir ini.
Allah
menurunkan Al Qur’an kepada manusia empat belas abad yang lalu. Beberapa fakta
yang baru dapat diungkap dengan teknologi abad ke-21 ternyats telah dinyatakan
Allah dalam Al Qur’an empat belas abad yang lalu.
Dalam
Al Qur’a, terdapat banyak bukti yang memberikan informasi dasar mengenai
beberapa hal seperti penciptaan alam semesta. Kenyataan bahwa Al Qur’an
tersebut sesuai dengan temuan ilmu pengetahuan modern adalah hal penting,
karena kesesuaian ini akan menegaskan bahwa Al Qur’an adalah “firman Allah”.
Al
Qur’an surat Fussilat (41:11) yang artinya : “ Kemudian Dia menuju langit dan
langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi :
“Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”.
Keduanya menjawab : “Kami dating dengan suka hati”.
Kata
asap dalam ayat tersebut menurut para ahli afsir adalah merupakaan kumpulan
dari gas – gas dan partikel – partikel halus
baik dalam bentuk padat maupun cair pada temperature yang tinggi maupun
rendah dalam suatu campuran yang lebih atau kurang stabil.
Salah
satu teori mengenai terciptanya alam semesta (teori Big Bang), disebutkan bahwa
alam semesta tercipta dari sebuah ledakan kosmis sekitar 10 – 20 milyar tahurn
yang lalu mengakibatkan adanya ekspansi (pengembangan) alam semesta. Sebelum
terjadinya ledakan kosmis tersebut, seluruh ruang materi dan energy terkumpul
dalam sebuah titik. Sekarang, mungkin diantara kita ingin tahu bagaimana Al
Qur’an menjelaskan tentang terbentuknya alam semesta ini. Dalam Al Qur’an surat
Al-Anbiya (21:30) disebutkan “Dan apakah orang – orang kafir tidak mengetahui
bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu
(sebingkah penuh), kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami
jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”. Berdasarkan terjemahan dan tafsir Bachtiar
Surin(1978:692) ditafsirkan bahwa matahari adalah benda angkasa yang menyala –
nyala yang telah berputar keliling sumbunya sejak berjuta- juta tahun. Dalam
proses perputarannya dengan kecepatan tinggi itu, maka terpelantinglah bingkah
– bingkahan yang akhirnya menjadi bumi dan beberapa benda angkasa lainnya dari
bingkahan matahari itu. Masing – masing bingkah beredar menurut garis tengah
lingkran matahari, semakin lama semakin bertambah jauh juga, hingga masing –
masingnya menempati garis edarnya sekarang. Dan seterusnya akan tetap beredar
dengan teratur sampai batas waktu yang hanya diketahui oleh Allah S.W.T.
Kemudian
surat Adz Dzaariyaat (51:470 “ Dan langit, dengan kekuasaan Kami, Kami bangun
dan Kami akan memuaikan selebar – lebarnya”
Teori
ledakan Maha Dahsyat (Big Bang) juga mengatakan adanya pemuaian alam semesta
secara terus – menerus dengan kecepatan maha dahsyat yang diumpamakan
mengembangnya permukaan balon yang sedang ditiup, yang mengisyaratkan bahwa
galaksi akan hancur kembali. Isyarat ini sudah dijelaskan dalam surat Al –
Anbiya (21:104) “ (Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung
lembaran – lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama
begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati;
Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya”
Dalan
surat At – Talaq (65:12) yang artinya: “Allah lah yang menciptakan tujuh langit
dan seperti itu pula bumi. Perintah
Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas
segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmunya benar-benar meliputi segala
sesuatu”. Ayat ini mengisyaratkan mbahwa ruang angkasa terdiri dari 7 lapis.
Dalam
surat Al – Sajda (32:4) yang artinya : “Allah lah yang menciptakan langit dan
bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam enam masa…”. Uraian penciptaan
langit dan bumi dan apa – apa yang ada diantara keduanya, terdapat dalam surat
Fush-Shilat ayat 9,10 dan 12 yang perincian tafsirannya sebagai berikut:
Tahapan pertama penciptaan bumi 2 rangkaian waktu, tahapan kedua penyempurnaan
aparat bumi 2 rangkaian waktu, tahap ketiga penciptaan (angkasa raya) dan
planet – planetnya 2 rangkaian waktu. Jadi terbentuknya alam semesta ini
terjadi dalam 6 rangkaian waktu atau 6 masa.
Selain
surat – surat teersebut di atas masih banyak lagi yang menjelaskan tentang
terbentuknya alam semesta ini, namun dari yang telah kami sajikan dalam
ringkasan ini terlihat secara umum proses terciptanya alam semsta ini
berlangsung selama 6 masa dimana tahapan dalam proses tersebut saling
berkaitan. Disebutkan juga bahwa terciptanya alam semesta ini terjadi melalui
proses pemisahan massa yang tadinya satu.
D.
PERKEMBANGAN ALAM PIKIRAN MANUSIA KARENA
FENOMENA ALAM
Dibandingkan
dengan makhluk lain, jasmani manusia adalah lemah, sedangkan rohani, akal budi,
dan kemauannya sangat kuat. Manusia tidak mempunyai tanduk, taji, ataupun
sengat, maka untuk membela diri terhadap serangan dari makhluk lain dan untuk
melindungi diri terhadap pengaruh lingkungan yang merugikan, manusia harus
memanfaatkan akal budinya yang cemerlang. Kemauannya yang keras menyebabkan
manusia dapat mengendalikan jasmaninya. Hal ini dapat menimbulkan efek
yang negatif misalnya, manusia dapat mogok makan, dapat minum-minuman keras
sampai mabuk, dan bahkan dapat bunuh diri. Kalau tubuh mendapat
pengaruh yang negatif dari lingkungan, maka timbul reaksi yang mendorong tubuh
supaya melepaskan diri dari lingkungan yang merugikan itu. Tetapi kemauan keras
dapat memaksa tubuh supaya tetap menerima pengaruh yang negatif itu. Jadi,
sifat unik manusia itu adalah akal budi dan kemauannya menaklukkan jasmaninya.
Perkembangan
alam pikiran dapat juga disebabkan oleh rangsangan dari luar, tanpa dorongan
dari dalam yang berupa rasa ingin tahu. Jadi dengan kata lain, bahwa alam
pikiran manusia berkembang terutama karena ada dorongan dari dalam, yaitu rasa
ingin tahu.
Fenomena
alam merupakan sebuah peristiwa yang non-artifisial dalam bidang fisika dan
tidak dapat diciptakan oleh manusia. Dalam kata lain fenomena terjadi
diluar kemampuan manusia untuk melihat unsur-unsur terbentuknya sehingga sangat
sulit untuk diamati dan diteliti mengenai perilaku kejadian di alam semesta
yang sangat penuh dengan fenomena aneh.
Jika
kita mendengar Fenomena alam, maka serentak kita akan membayangkan terjadinya,
tsunami, gempa bumi, banjir bandang, gunung meletus, cuaca, pembusukan dan
sebagainya, fenomena ini terjadi diluar kemampuan manusia untuk bersikap dan
menahan. Fenomena alam ini terjadi tiba-tiba dan tak bisa ditahan. Alam
semesta yang sangat luas ini menyimpan jutaan, bahkan miliaran teka-teki yang
tidak mungkin dapat diselesaikan oleh manusia. Begitu pula halnya sebuah
fenomena alam yang telah terjadi. Satu hal yang masih bisa kita lakukan
adalah melihat dan memperhatikan ciri dan bentuk fenomena yang telah terjadi
akhir-akhir ini di awal 2012. Apakah anda tahu sedikitnya telah terjadi 5
fenomena yang ditunjukan oleh alam semesta untuk mengancam keberlangsungan
hidup manusia di dunia? Diantaranya adalah sebagai berikut:
- Gempa dan Tsunami di Mentawai
Gempa yang
melanda kepulauan siberut dengan 8,9 SR, dapat mengancam kelangsungan hidup 1
juta orang penduduk di daerah Padang, Pariaman. Fenomena alam ini adalah
ulangan gempa pada tahun 1833 dengan 8,7 SR. Alam sepertinya sedang mengamuk
akhir-akhir ini.
- Potensi Gempa di Selat Sunda
Sistem kejutan
atau bisa dikatakan sistem cobaan kayaknya telah dipersiapkan untuk menguji
kesabaran manusia dengan meletakan lempengan-lempengan aktif di sepanjang jalur
selatan. Sehingga potensi terjadinya gempa dan tsunami sangat besar di alam
semesta ini.
- Gunung Aktif
Gunung lagi lagi
masuk kategori fenomena alam yang sangat mengancam, bagaimana tidak pada awal
2012 ini tercatat ada 2 gunung sedang aktif dan 23 lainnya berada di level
waspada dan siaga, dan ini hanya fenomena di Indonesia saja, bagaimana dengan
di alam semesta?
- Fenomena Banjir Lahar Dingin
Fenomena alam
ini terjadi di daerah bekas letusan gunung berapi, jutaan kubik tanah, batuan
dan sedimen yang terkena hujan deras akan turun membawa jutaan kubik itu
menyeret segala apapun yang ada didepannya, menghancurkan dan membawa binasa.
- Iklim Tak Menentu
Fenomena yang
baru sekarang terjadi ini membuktikan bahwa alam semesta ini telah siap menuju
akhirnya, segala yang hidup pasti merasakan mati, dan ini terjadi juga untuk
alam semesta. Fenomena alam yaitu iklim tak menentu mengakibatkan
terjadinya banyak bencana, seperti angin topan karena bedanya tekanan udara dan
sebagainya.
Fenomena
alam semesta ini layaknya di maknai dengan positif, jadikan ini sebagai pemicu
anda untuk lebih giat lagi dalam menjalani hidup dan beribadah. Jangan
sia-siakan waktu yang ada tanpa anda manfaat. Waktu adalah kesempatan untuk
anda agar merubah nasib anda. Fenomena alam yang semkin sering terjadi ini
memperlihatkan bahwa waktu menentukan intensitas kemunculan fenomena baru
di alam semesta ini.
Dengan
adanya fenomena – fenomena alam tersebut alam pikiran manusia semakin
berkembang. Mereka semakin pandai dalam menciptakan beberapa alat ataupun
teknologi modern. Misalnya saja dalam mendeteksi sebuah gempa, kini manusia
dapat mendeteksi apakah gempa tersebut berpotensi menimbulkan tsunami atau
tidak. Dengan seismograf, manusia dapat mengetahui seberapa besar kekuatan gempa yang mengguncang
suatu tempat.
Letusan
gunung berapi juga telah membuat pikiran manusia semaakin berkembang. Manusia
dapat memperkirakan seberapa jauh lahar panas dari letusan tersebut akan
terjadi, sehingga manusia dapat
meminimalkan adanya korban jiwa.
Dengan
berkembangnya teknologi, alam pikiran manusia juga ikut berkembang. Rasa ingin
tahu manusia terhadap alam semesta juga semakin berkembang. Manusia semakin
merasa penasaran tehadap alam semesta. Mereka pun melakukan penelitian –
penelitian untuk mendapatkan fakta -
fakta yang mereka inginkan. Belum lama ini manusia juga telah melakukan
penelitian terhadap suatu planet yang diprediksi bahwa planet tersebut dapat
dihuni oleh manusia.
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dari
pembahasan tentang perrkembangan pemikiran tentang terbentuknya alam semsta,
Yang diungkapkan melalui pendapat atau pamikiran dari berbagai peradaban
bangsa, teori – teori yang dikemukakan
dari beberapa ilmuwan serta daari pandangan Islam berdasarkan Al Qur’an, maka
dapat disimpulkan bahwa perkembangan pemikiran tentang terbentuknya alam
semesta sudah sejak lama telah menjadi bagian pamikiran manusia. Begitu banyak
pendapat – pendapat dari berbagai peradaban bangsa, begitu banyak teori – teori
yang muncul tentang terbentuknya alam semesta ini.
Dari
sekian banyak teori – teori yang dikemukakan oleh para ilmuwan ternyata ilmuwan
modern menyetujui bahwa Teori Ledakan Maha Dahsyat (Teori Big Bang) merupakan
satu – satunya penjelasan masuk akal dan yang dapat dibuktikan mengenai asal
mula alam semesta dan bagaimana alam semesta muncul menjadi ada.Namun perlu
kita sadari bahwa jauh sebelum para ahli mengemukakan teori Big Bang, ayat –
ayat Al Qur’an telah secara jelas menceritakan bagaimana alam semesta ini
terbentuk dalam 6 masa.
Sumber : http://galistmagelang26.blogspot.co.id/
Kamis, 29 Oktober 2015

Posting Komentar